Get Adobe Flash player

Instansi Eksternal

dwp-purworejo.org

kwarcabpurworejo.org

pa-purworejo.go.id

pn-purworejo.go.id

indonesia.go.id

bappenas.go.id

Alamat dan Telepon

Daftar Telpon Penting
(Kode telpon 0275) Purworejo
PEMDA 321012
POLRES 110
RSUD 321118
PLN 321043
Telkom 162
PDAM 321050
PMI
321348
PEMADAM
324218/324219
SATLAK PBA
323850
POS
161
Home News Serba serbi Sutrisno, 10 Tahun Pelihara Ular

Sutrisno, 10 Tahun Pelihara Ular

           Setiap  Binatang  bisa dipastikan memiliki senjata alamiah untuk melindungi diri dari berbagai  ancaman. Hal itu pula yang ada pada binatang  ular, untuk melindungi diri  dari berbagai ancaman mengandalkan bisanya, gigitan sekaligus semburan.  Ular  berbisa acapkali  menyebabkan kematian pada seseorang atau pada binatang lain yang di gigitnya. Apalagi  ular jenis Weling maupun Welang yang bisanya sangat membahayakan.

              Bagi Sutrisno (45) warga Desa Kalimiru RT 01 RW 01 Kelurahan Kalimiru Kecamatan Bayan  sudah hampir 10 tahun memelihara ular jenis Sowo Kembang. Satu hal yang di pegang erat olehnya, dalam menghadapi ular atau binatang seperti ular adalah masalah kasih sayang. Baginya, seliar liarnya ular akan bisa menjadi jinak jika di dekati dengan kasih sayang ,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa selama memelihara ular hanya sekali digigitnya. Itu saja secara tidak sengaja ,karena saat akan memberi makan ular dengan tikus, dia menyalakan lampu senter di depannya, sehingga bukannya tikus yang di gigit tapi tangan Sutrisno. Sejak itu dia lebih hati hati dalam memberikan makan , terlebih lagi jika ular sudah waktunya makan, lebih ganas dan membahayakan.
              Dikisahkan Sutrisno, asal usul ular yang sudah mempunyai berat 150 kilogram dan panjang 6 meter tersebut bermula dari telur yang ditemukan di perkebunan kelapa sawit di daerah Bangka Bitung. Sutrisno pada saat itu menemukan 13 butir telur, kemudian ia bawa pulnag ke Jakarta. Setelah di tetaskan pakai alat penetas listrik menetas seluruhnya. Pada umur satu minggu, ia membawa pulang ke Kalimiru 3 ekar.
              “Waktu itu membawa pulang tiga ekor, sebesar cacing tanah. Setelah sekitar satu minggu kemudian, dua ekor mati. Waktu itu saya bingung memberikan makan, menggunakan apa. Karena tidak tahu ya saya diamkan saja. Hingga mencapai umur tiga bulan, ular tersebut bisa bertahan hidup. Pada usia tersebut ternyata lepas dari kandangnya, waktu itu besarnya sekitar ibu jari kaki orang dewasa. Saat malam hari saya digagetkan oleh ketakutan tetangga,yang rumahnya kejatuhan ular. Berbagai pendapat terlontar adanya ular tersebut. Ada yang berpendapat segera dibunuh saja, takut menggigit . Sementara yang lain, berpendapat agar jangan disakiti, mungkin ular jelmaan. Mendengar keributan itu, saya segera datang ke lokasi, seraya memperhatikan hewan tersebut. Dari tanda-tanda yang dimiliki, saya pastikan ular tersebut milik saya yang lepas sehari sebelumnya”, kenangnya.
               Ular tersebut jatuh dari atap rumah, dan tidak bergerak. Setelah dipegang dan diraba, ternyata perutnya berisi seekor tikus. Kemudian ular tersebut dibawa pulang, dan dalam benaknya ia sangat bergembira. Sebab tahu makanan yang harus diberikan kepada ular itu. Ia yakin, makannnya tikus. Sejak itulah, ia rajin mencari tikus kecil, di sawah-swah, untuk makan ular piaraannya. Ternyata bernar juga, setiap ia beri anak tikus, dimangsanya. Selain tikus, juga sering diberi burung-burung kecil.

Tragedi menimpa.
              Kebahagiannya telah menemukan makanan ular piaraannya diceriterakan kepada anaknya. Karena penasarannya, anaknya ingin melihat ularnya mau makan tikus, ia minta agar malam itu memberi tikus. “Saat itu, saya memegang tikusnya dan anak saya menerangi dengan batu baterai. Namun naas, bukannya tikus yang disambar, melainkan tangan anak saya yang pegang baterai yang disambar, tepat dipergelangan tangan dan digigit. Kemudian anaknya  dibawa ke mantri kesehatan, Untuk mendapat pengebotan” jelasnya. Kejadian tersebut membuat trauma bagi dia dan keluarganya. Sehingga setiap memberi makanan hanya dilempar saja dari kejauhan, dan tak lagi berani memegang piarannya.
               Ia sendiri sampai saat ini belum megetahui, ciri-ciri ular lapar. Berdasrkan kebiasaan yang ia lakukan, setiap sering menjatuhkan diri dari tangga yang ia buatkan, berarti ular tersebut lapar. Perlu segera memberikan makan. Seiring bertambahnya umur dan petumbuhan tubuhnya, jumlah makannya pun semakin besar. Katika masih kecil cukup anak-anak tikus, kemudian meningkat menjadi tikus dewasa. Setelah lebih besar, untuk memudahkan pemberian makan, ia memilih ayam.
               Demikain saat kepanasan dan ingin mandi, biasanya sering jatuh-jatuh dari tangga. Untuk memandikannya, ia hanya berani menyemprot dari luar kandang.“Pada  umur 3 tahun, ular tersebut pernah makan 12 ekor ayam sekaligus dengan berat rata-rata 2 kg per ekor. Setelah itu selama 3 bulan tidak pernah makan. Namn dibalik itu, perkembangan tubuhnya sangat pesat. Setelah itu kelihatan sekali besarnya, sebesar paha orang dewasa “ katanya. Namun setelah itu  ular mau makan setelah 40 hari dengan satu ekor ayam.
              Bertepatan dengan pelaksannn pasar rakyat yang diselenggarakan di lapangan Desa Kalimiru, yang kebetulan berada di depan rumahnya, ular piarannya menjadi pusat perhatian masyarakat. Lebih-lebih saat itu, ada seorang pawang yang sengaja di datangkan oleh sebuah stasiun televisi swasta. Saat itu, ularnya dibawa kelapangan dan diajak bermain bersama anak-anak kecil.
             Ular tersebut konon merupakan ular terbesar ke 2 se Indonesia dan pernah menghilang tanpa diketahui lubangnya. Bahkan menurut  Sutrisno yang sudah memelihara ular hamper 10 tahun , bahwa dirinya sering bermimpi yang aneh tentang ular peliharaannya. Dalam mimpi tersebut , Sutrisno sering diminta untuk memandikan ular setiap malam Selasa Kliwon. Namun yang menjadi kendala bagi Sutrisno, setiap akan memandikan ular harus mendatangkan pawang ular terlebih dahulu. Karena meskipun ular tersebut sudah jinak , Sutrisno tetap saja takut untuk memegang sendirian. Disamping itu ia bakarkan kemenyan, yang diletakkan di dekan kandang.
            Ular tersebut sekarang hanya dipelihara di kandang berukuran 2 x3 meter yang terbuat dari kawat. Menurutnya, untuk memudahkan para pengunjung yang akan melihatnya, sudah dipersiapkan kandang yang terbuat dari besi dengan ukuran yang lebih besar. Karena Selama ini kalau ada  pengunjung yang jumlahnya banyak  harus berdesak desakan

 

Tambah komentar


Security code
Refresh

Iklan

SIM-SIM Internal

SIM Perencanaan Pembangunan

sippd.purworejokab.go.id